Penulis: S. Bahalaan
Masyarakat Dayak, khusunya di Mahakam Ulu, memiliki kisah turun-temurun mengenai Mandau. Ada banyak cerita dari para tetua yang mengatakan bahwa Mandau yang asli memiliki jiwa yang dapat bergetar atau memberikan pertanda saat bahaya mendekat.
Oleh karena itu, ia tidak boleh dipegang oleh orang yang hatinya tidak bersih. Mandau bukanlah sekadar bilah besi yang tajam; ia adalah cermin dari integritas dan kematangan jiwa pemiliknya.
Sejatinya, filosofi Mandau ini adalah cerminan hidup bagi kita semua. Setiap hari, kita masing-masing memegang Mandau dalam bentuk yang berbeda, baik itu jabatan yang kita emban, tanggung jawab di pundak, maupun kepercayaan yang diberikan orang lain kepada kita.
Sering kali, kita merasa ingin mengendalikan segalanya, memegang kendali atas setiap situasi agar berjalan sesuai keinginan ego kita.
Namun, belajar dari Mandau, kita diajarkan satu hal yang fundamental: kendali sejati bukanlah soal seberapa kuat kita menekan, melainkan seberapa mampu kita menjaga kemurnian hati.
Sehebat apa pun kendali yang kita miliki, semuanya hanya akan menjadi bumerang jika hati kita belum mampu menundukkan ego sendiri.
Mandau yang bergetar saat bahaya mendekat adalah pengingat bahwa saat hidup memberikan ujian, langkah pertama bukanlah mencabut senjata atau memaksakan kehendak, melainkan memastikan bahwa tangan yang memegang kendali itu tetap tenang dan hati tetap jernih.
Sebab, seorang pemimpin atau pemegang tanggung jawab yang tidak mampu menundukkan egonya, ibarat seseorang yang membawa Mandau tanpa sarung; ia akan melukai orang lain, dan pada akhirnya, melukai dirinya sendiri.
Di dunia ini, kita diajarkan untuk menjaga amanah dengan cara yang sama seperti menjaga tajamnya Mandau: dengan kewaspadaan, kerendahan hati, dan penguasaan diri yang tiada henti.
Karena pada akhirnya, pertempuran paling berat bukanlah melawan dunia di luar sana, melainkan menaklukkan ego yang bersemayam di dalam diri kita sendiri. (*ed/sb)
Catatan Penulis: Tulisan ini merupakan refleksi atas saripati nilai adat, budaya, dan filosofi Mandau yang saya himpun dari perbincangan ringan di sela-sela wawancara pengumpulan data Karya Budaya Warisan Budaya Takbenda Alaq Leto bersama mendiang Bapak Lorensius Pemasing Laing di Kampung Batu Majang, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu, pada 3 Oktober 2025.
Catatan Redaksi: Berita ini dipindahkan dan dimuat ulang dari situs resmi Radar Mahulu sebelumnya ke portal berita radarmahulu.id.
Disclaimer: Semua hak cipta atas isi berita dan foto di atas dilindungi undang-undang. Dilarang keras menyalin, memperbanyak, atau memuat ulang sebagian maupun seluruh isi berita dan foto tanpa izin tertulis dari Redaksi Radar Mahulu.
Informasi yang disajikan dalam artikel ini ditujukan untuk tujuan edukasi dan informasi umum. Radar Mahulu berupaya menyajikan data seakurat mungkin, namun kami tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian atau konsekuensi yang timbul akibat penggunaan informasi tersebut. Kami menyarankan pembaca untuk selalu melakukan verifikasi mandiri terhadap informasi yang bersifat krusial atau teknis.
Punya info menarik atau peristiwa di sekitar Anda? Hubungi tim redaksi kami melalui email ke: redaksi@radarmahulu.id atau kirim pesan melalui media sosial resmi Radar Mahulu. Ikuti terus informasi terkini seputar Mahakam Ulu hanya di Radar Mahulu.



Komentar