Ikuti akun Media Sosial kami
Kalimantan
Beranda / Kalimantan / 13 Ribu Warga Terpapar ISPA, Wagub Kaltim Perintahkan OPD Bersinergi

13 Ribu Warga Terpapar ISPA, Wagub Kaltim Perintahkan OPD Bersinergi

Wagub Kaltim Seno Aji memberikan keterangan kepada wartawan. Pemerintah Provinsi Kaltim mendorong penanganan terpadu menyusul laporan sekitar 13 ribu kasus ISPA.
Wagub Kaltim Seno Aji memberikan keterangan kepada wartawan. Terkait penanganan ISPA di kalimantan Timur, ia meminta Organisasi Perangkat Daerah memperkuat koordinasi (Foto: Diskominfo Kaltim)

RADAR MAHULU –Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memperkuat koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menangani 13.000 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang tercatat akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menginstruksikan seluruh OPD, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, untuk mempercepat koordinasi agar penanganan dampak kesehatan dapat menjangkau hingga puskesmas.

Instruksi tersebut disampaikan di Samarinda pada Senin (12/10/2026). Seno Aji menyebut angka itu berasal dari laporan khusus karhutla periode 27 Juli hingga 15 September 2026.

Berdasarkan laporan tersebut, terdapat sekitar 13.000 kasus ISPA di wilayah Kaltim. Kasus mingguan bahkan sempat meningkat hingga 5,4 kali lipat. Kenaikan itu terjadi seiring memburuknya kualitas udara akibat asap karhutla.

Sebagai respons, Dinas Kesehatan Kaltim menyiagakan tim krisis kesehatan dan pendistribusian logistik untuk merespons potensi peningkatan kasus ISPA. Langkah ini mencakup pemantauan lapangan serta pengiriman dukungan ke daerah terdampak.

Wujudkan Visi Pelestarian Kebudayaan, Pelajar SMPN 5 Long Bagun Ramaikan Ritual Adat Hudoq Hari Ke-70 di Kampung Long Melaham

Dinkes juga menyiagakan Rumah Oksigen di 20 puskesmas yang tersebar di 10 kabupaten/kota. Fasilitas tersebut dimaksudkan untuk mengantisipasi kegawatdaruratan akibat ISPA.

Selain itu, Dinkes mengintegrasikan pemantauan kualitas udara dengan pelaporan kasus ISPA secara real-time. Sistem ini diharapkan mempercepat deteksi daerah rawan dan distribusi penanganan.

Paparan asap karhutla berisiko memperberat kondisi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan kronis. Lonjakan kasus juga berpotensi menambah beban puskesmas, rumah sakit, dan tenaga kesehatan di daerah terdampak.

“Perlu kerja sama yang baik di tingkat OPD, baik provinsi maupun kabupaten/kota, sehingga kesehatan masyarakat akibat karhutla ini dapat tertangani dengan baik sampai ke tingkat puskesmas,” ujar Seno Aji.

Pemerintah provinsi telah menerbitkan surat edaran resmi dan menggelar rapat koordinasi bersama pemerintah kabupaten/kota. Fokus berikutnya adalah memastikan data karhutla dan data kesehatan terpadu, sehingga personel serta sumber daya dapat bergerak dalam satu sistem (*ed/sb)

Festival Hudoq Pekayang 2026 Satukan 13 Kampung Dayak Bahau di Long Pahangai II

Disclaimer: Semua hak cipta atas isi berita dan foto di atas dilindungi undang-undang. Dilarang keras menyalin, memperbanyak, atau memuat ulang sebagian maupun seluruh isi berita dan foto untuk tujuan komersial tanpa izin tertulis dari Redaksi Radar Mahulu.

Informasi yang disajikan dalam artikel ini ditujukan untuk tujuan edukasi dan informasi umum. Radar Mahulu berupaya menyajikan data seakurat mungkin, namun kami tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian atau konsekuensi yang timbul akibat penggunaan informasi tersebut. Kami menyarankan pembaca untuk selalu melakukan verifikasi mandiri terhadap informasi yang bersifat krusial atau teknis.

Punya info menarik atau peristiwa di sekitar Anda? Hubungi tim redaksi kami melalui email ke: redaksi@radarmahulu.id atau kirim pesan melalui media sosial resmi Radar Mahulu. Ikuti terus informasi terkini seputar Mahakam Ulu hanya di Radar Mahulu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
×